Belajar masak yang praktis!

Tanpa disadari kegemaran memasak sudah timbul secara tidak langsung karena waktu semasa kecil dulu (waktu berusia 10 tahun) sering menemani ibu ke pasar karena sekolahnya masuk siang. Pergi ke pasar dilakukan setiap pagi hari selama 2 tahun dan tentunya banyak sekali pengalaman dalam hal memilih bahan-bahan untuk memasak dan memasak makanan yang bermacam-macam seperti masakan tradisional dari berbagai daerah (misalnya masakan China atau masakan Belanda).

Bahan-bahan yang dibeli bermacam-macam seperti sayur mayur, rempah-rempah (bumbu-bumbuan dapur), daging hewan (sapi, ayam, ikan, udang, kodok, burung dara, babi), buah-buahan. Ibu termasuk orang yang sangat teliti sehingga pada waktu membeli bahan-bahan tersebut harus dipilih satu per satu (misalnya membeli buncis; harus dipilih satu per satu sehingga buncis yang dibeli muda-muda dan tidak ada yang terbuang, bawang merah juga harus dipilih satu per satu), demikianlah sehingga bahan-bahan yang dibeli adalah barang yang berkualitas baik dan segar. Dengan demikian sampai sekarang pun apabila saya memilih barang-barang di pasar, kebiasaan memilih satu per satu tetap saya lakukan. Memang agak ribet dan memakan waktu lama tetapi hasil yang didapat juga memuaskan. Tentunya ini berpengaruh pada hasil makanan yang dibuat.

Karena senang membantu ibu di dapur, secara tidak langsung saya melihat cara mengolah makanan. Bukan itu saja, cara mengupas bahan-bahan makanan, sampai membersihkan daging atau lainnya saya pelajari dan lakukan berdasarkan pengalaman dari masa kecil tersebut.

Alhasil, apabila ada acara lomba memasak di sekolah, pastilah kelas saya yang mendapatkan juara 1. Jadi tidak ada ruginya dapat membuat/mengolah masakan sejak umur sedini mungkin, tanpa biaya kursus yang mahal dan dapat dinikmati oleh diri sendiri dan keluarga.

Praktis, bukan?

Advertisements